Pertanyaan Rasial Terkait Tionghoa Malaysia dan Palestina Diminta Maaf oleh FMT
Portal berita terkemuka Malaysia, Free Malaysia Today (FMT), secara resmi menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas sebuah insiden kontroversial yang melibatkan salah satu jurnalisnya. Insiden ini bermula dari sebuah pertanyaan yang diajukan dalam sesi kuliah umum yang menghadirkan pakar internasional terkemuka, Profesor John Mearsheimer. Pertanyaan tersebut menjadi viral dan memicu kemarahan publik karena mengandung muatan rasial yang sensitif serta dianggap tidak pantas.
Dalam acara tersebut, jurnalis FMT mengajukan pertanyaan yang mencoba menarik paralel antara keberadaan komunitas https://www.kabarmalaysia.com/ Tionghoa di Malaysia dengan situasi geopolitik di Palestina. Istilah “masalah Tionghoa” (Chinese problem) yang digunakan dalam pertanyaan tersebut dinilai sangat ofensif dan provokatif. Penggunaan terminologi ini dianggap merendahkan martabat warga negara Malaysia keturunan Tionghoa dan menyebarkan narasi perpecahan yang berbahaya di tengah masyarakat yang multietnis.
Reaksi keras segera muncul dari berbagai lapisan masyarakat, tokoh politik, hingga aktivis hak asasi manusia. Banyak pihak menilai bahwa pertanyaan tersebut bukan hanya menunjukkan kurangnya sensitivitas sejarah, tetapi juga berpotensi mengobarkan sentimen rasisme di Malaysia. Kritik utama berfokus pada betapa tidak akurat dan tidak adilnya membandingkan perjuangan rakyat Palestina melawan pendudukan dengan dinamika sosial-politik internal Malaysia yang demokratis.
Menanggapi gelombang kritik tersebut, manajemen FMT bertindak cepat dengan mengeluarkan pernyataan resmi melalui situs mereka. Dalam klarifikasinya, FMT mengakui bahwa pertanyaan yang diajukan oleh stafnya “sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai perusahaan” dan “sangat melenceng dari standar jurnalistik yang dijunjung tinggi oleh portal tersebut.” Pihak redaksi menegaskan bahwa mereka sangat menyesali dampak negatif dan kegaduhan yang ditimbulkan oleh insiden tersebut.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, FMT menyatakan telah mengambil tindakan internal terhadap jurnalis yang bersangkutan. Mereka juga berkomitmen untuk memperketat pengawasan editorial dan memberikan pelatihan tambahan bagi seluruh staf guna memastikan insiden serupa tidak terulang kembali di masa depan. Permohonan maaf ini ditujukan kepada seluruh rakyat Malaysia, khususnya komunitas Tionghoa yang merasa tersinggung, serta pihak-pihak lain yang merasa terganggu dengan narasi tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi industri media di Asia Tenggara mengenai tanggung jawab besar jurnalis dalam menjaga kerukunan sosial. Di tengah sensitivitas isu agama dan ras, media diharapkan menjadi jembatan pemahaman, bukan justru penyulut api sentimen negatif. Bagi pembaca yang ingin meninjau pernyataan lengkapnya, informasi tersebut dapat diakses melalui laman resmi Free Malaysia Today. FMT menutup pernyataannya dengan berjanji untuk tetap menjadi platform yang mengedepankan persatuan dan keadilan bagi seluruh rakyat Malaysia tanpa memandang latar belakang etnis.
